was successfully added to your cart.

EMPATI : KUNCI MERANGKUL BAWAHAN

EMPATI : KUNCI MERANGKUL BAWAHAN

SEORANG teman menelpon, “Ajarkan saya bagaimana berempati, Saya merasa terlalu galak” Saya terperangah dengan ucapannya. Sebenarnya dari beberapa proses assessment yang diikutinya di Experd, memang ada data bahwa daya empatinya di bawah rata-rata. Namun, pengakuan bahwa ia, seseorang yang sudah sukses dan berpengalaman ini cukup membuat saya surprised.

Adakah suatu titik balik yang menyebabkan Ia tiba-tiba ingin berubah? Mengapa dalam usia karir seperti ini beliau baru merasakan kebutuhan mendesak ini. Bahkan, beliau tidak sabar mendengar respon saya dan meminta agar cepat mendapatkan solusi. Saya berusaha memahami mengapa kebutuhan ini mendesak baginya. Mungkin, ia kurang merasakan kehangatan hubungan dengan timnya, dimana pada saat-saat krisis, itulah hal sangat penting baginya.

Mengapa pemimpin butuh empati? Yang jelas, kondisi sendirian di puncak jabatan, bahkan bagi individu yang introvert sekalipun tidaklah menyenangkan. Manusia adalah mahluk sosial, dimana kita bisa dan perlu bersosialisasi. Keadaan tidak optimal dalam bersosialisasi ini, jelas membuat orang lebih menderita daripada bila ia sendiri. Bahkan penelitian menemukan bahwa ini adalah kebutuhan biologis. Kita dipersenjatai chemistry tertentu untuk menjaga keseimbangan diri, dan orang lain. Ada 4 neurochemical yang bekerja di tubuh manusia endorphin, dopamin, serotonin dan oksitosin yang berkontribusi kepada perasaan positif, dan merupakan bagian dari kebahagiaan manusia. Fungsi-fungsi inilah yang membuat individu feel good dan awet muda.

Endorfin dan dopamin adalah zat kimia yang bisa disebut sebagai zat kimia yang selfish. Kedua zat ini diproduksi ketika kita berjuang mencapai sesuatu. Endorfin mengelabui kesakitan fisik dengan kesenangan, dan memproduksi euforia pada saat seorang pelari berjuang mencapai titik finish. Selanjutnya, bila kita mengalahkan lawan, mencapai titik finish, menyelesaikan proyek atau memenangkan negosiasi, dopamin bekerja dan mempengaruhi darah, membuat wajah kita memerah, dan merasakan kepuasan. The bigger the goal, the more effort it requires, the more dopamine we get” ungkapan Simon Sinek penulis buku Leaders eat last. Inilah latar belakang mengapa ada orang yang kecanduan tantangan serta hal-hal yang sulit. Bagi mereka hal-hal yang mudah dan ringan, hanya mengeluarkan dopamin dalam jumlah kecil, yang tidak menarik.

Di lain pihak, serotonin dan oksitosin adalah zat kimia yang disebut selfless. Serotonin adalah manifestasi molekul yang memunculkan rasa bangga kalau kita menghormati dan dihormati oleh orang lain. Jauh di dasar hati, kita butuh dicintai oleh orang-orang sekelompok kita, persis sama dengan perasaan cinta antara anak dan orang tua, guru dan murid, serta suami dan istri, serta coach dan coachee-nya. Oksitosin bekerja untuk mempromosi empati dan rasa percaya, memperdalam bonding antar manusia, sehingga terbentuk hubungan yang harmonis. Semakin kita saling percaya, semakin oksiosin kita mengalir sebagai chemical of love. Semakin deras aliran oksitosin dalam diri seorang pemimpin, maka semakin besar potensinya untuk disukai. Semakin disukai, semakin ia melindungi para anak buah, dan semakin kuat pertahanan tim tersebut.

Kita bukan reptil

Binatang melata seperti buaya, hanya digerakkan oleh endorphin dan dopamine. Nalurinya disebut sebagai naluri me first. Dua buaya lapar bisa berebut makanan dan tidak pernah berbagi. Dalam otak reptile, tidak ada kehendak untuk kooperatif. Tingkah laku kita yang penuh curiga, self interest, sinis ketimbang kooperatif dan butuh perhatian, juga memang seperti reptil.

Di dalam kemiliteran medali diberikan kepada individu yang membela orang lain, tetapi di dunia bisnis kita memberi penghargaan kepada pembawa keuntungan, tak peduli apakah orang lain menderita. Latihan militer menganut paham bahwa sikap selfless ini sangat penting. Perusahaan yang menghalalkan tingkah laku reptil ini, bisa sukses meskipun tidak lama, karena kekuatannya tidak mengandalkan kekuatan hubungan antar manusia.

Perusahaan perusahaan legendaris seperti Zappos dan Virgin, bahkan percaya bahwa hubungan antar manusialah di atas segalanya. Di sinilah kekuatan pemimpin dengan empati bekerja. Pemimpin yang bukan sekedar menunjukkan tanggung jawabnya dalam mencapai tujuan, paling pandai dan paling berkualitas, tetapi pemimpin yang bisa membangun circle of safety, suatu budaya di mana manusianya merasa terlindung.

“Are you okay?”

Pelajaran pertama yang perlu kita yakini adalah bahwa kita perlu orang lain. Sukses kita tergantung pada orang orang yang bekerja sama dengan kita, yaitu orang-orang yang bervisi sama dan sudah mendukung kita. Tugas pemimpin adalah membuat mereka berfungsi sesuai kapasitasnya dan tetap happy.

Empati adalah kemampuan umtuk mengenali dan berbagi rasa dengan sesama. Pertanyaan awal yang bisa kita ajukan pada bawahan adalah : “Is everything OK?” Dalam hubungan kerja yang baik, dan tiba tiba menjadi getir, kita bisa saling membuka diri dengan melanjutkan bertanya tentang apa yang berubah, dan apa yang dirasakan. Individu yang belum terbiasa dengan sikap ini bisa melatih diri secara intensif. Menahan pintu lift untuk orang lain, mengambilkan minuman, membuatkan kopi, dengan mengingat bahwa “Even small acts of kindness release a tiny shot of feel-good oxytocin.” Hal-hal kecil ini akan membangun dampak dalam diri kita, untuk selalu mengedepankan kepentingan orang lain terlebih dahulu. Kemudian lambat laun kita akan merasakan efek dari hubungan pertemanan, dengan pelanggan maupun anak buah. Bermodalkan sikap çare tadi, kita bisa membuat koneksi, mengerti perasaan orang lain, tanpa upaya ekstra bahkan menikmatinya, karena oxytocin kita sudah secara rutin diproduksi otak kita. Pada kondisi ini, berempati menjadi kebutuhan biologis.

Dimuat dalam Kompas, 29 September 2017

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com