| Company Profile | Services | | News & Articles | Consultation | | Contact Us | | EileenRachman.com |
|
|
Articles
Genjot Kekuatan
By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Di masa sekarang, di mana krisis datang silih berganti dan tantangan hadir 24 jam di depan mata, setiap kita tentu butuh menjaga dan menambah kekuatan diri, tim dan organisasi. Meski demikian, kita lihat bahwa banyak orang yang tidak menyadari potensi dan kekuatan dirinya, bahkan tidak merasa penting untuk secara serius menggali dan menemukan kekuatannya. Kita bahkan seringkali terjebak menggali kelemahan-kelemahan kita, membahas kekurangan diri kita, tim bahkan bangsa kita sendiri, sampai-sampai akhirnya menyakini bahwa kita inferior, lemah dan tidak berdaya. Bukankah ini sangat berbahaya? Saat diajukan pertanyaan, “apa yang menjadi kekuatan dirimu”, banyak teman yang lalu dengan tertawa-tawa lalu mengatakan: “Saya kuat di semuanya….” Atau “Kekuatan saya sama rata…”, atau bahkan “tidak ada hal yang menonjol, semua sedang-sedang saja...”. Tidak menyadari keunikan diri sendiri bisa jadi menunjukkan betapa banyak orang melihat hidup ini sudah demikian ‘taken for granted’-nya. Hidup seolah-olah dipandang seperti permainan, sebut saja sepakbola, di mana bola dan ukuran lapangan sudah standar, aturan sudah baku, dan setiap orang bisa menendang bola serta berlatih dengan acuan yang sama. Jika ini yang terjadi, tanpa disadari individu memang bisa tidak menghargai kemampuannya sebagai modal menciptakan momen-momen terbaik atau “peak experience” dalam hidup pribadinya, pekerjaan, juga kemasyarakatan. Bayangkan betapa ruginya bila kita tidak sempat menggali “life-giving forces” sepanjang hidup kita. Hindari Bahasa Defisit Kegiatan menonton wakil rakyat melakukan wawancara secara maraton sedikit banyak pasti membuat kita merasa ‘down’. Betapa tidak, selama berbulan-bulan kita diajak untuk mengikuti adegan demi adegan di mana anggota majelis satu sama lain berusaha saling menjatuhkan. Setiap pertanyaan yang diajukan menggali “what’s wrong”-nya sehingga kita terus-menerus disuguhkan kekurangan, kegagalan, sampai-sampai kita pun merasa pesimis dan menjadikan rasa inferior menetap dalam kehidupan kita sehari-hari. Padahal, dalam momen krisis begini, sangat disarankan kita untuk bisa bersikap konstruktif. Mau tidak mau, diskusi berkepanjangan dan melelahkan ini sangat berpengaruh terhadap bagaimana kita melihat dunia, bagaimana kita menyikapinya dan menerima realitas. Saya pernah meyakinkan dan membuktikan bahwa hanya dengan menggunakan pertanyaan dan pernyatan positif saja kita bisa mengubah keputusan seseorang. Dan kenyatannya fenomena ini sangat ‘magic’. Ketimbang menanyakan “apa yang dibutuhkan?”, kita langsung menanyakan “apa yang terbaik?”. Daripada berkutat pada penyebabnya, kita menanyakan “Apa perbaikan yang kita ingin ciptakan?”. Dengan demikian kita tidak berorientasi pada masalah tetapi lebih fokus kepada menciptakan masa depan dan menambah kekuatan. (Ditayangkan di Kompas, 30 Januari 2010) |
| © 2012 EXPERD Consultant. AllRight Reserved. |