was successfully added to your cart.

KARIER

Banyak dari kita yang mungkin masih menganalogikan karir sebagai sebuah tangga. “si A sudah jadi manajer sekarang”. “Masih muda begitu sudah menjadi direktur” atau “ Si C sudah 5 tahun di perusahaan itu tidak naik-naik." Demikian beberapa pandangan umum mengenai karir. Kita pasti setuju bahwa karir memang harus menanjak. Para profesional berusaha mendapat pekerjaan yang lebih penting dan bergengsi, upah yang lebih tinggi dari tahun ke tahun. Siapa yang tidak menginginkan nafkah yang cukup, hidup dan pekerjaan yang bermakna selama usia produktifnya? Tetapi, apakah kita masih bisa merealisasikan pandangan ini, pada saat perubahan terjadi terlampau cepat seperti sekarang? Perusahaan-perusahaan "b​lue chip” yang relatif stabil di pasar saham, tiba-tiba tidak bisa menahan anjloknya harga saham. Banyak perusahaan yang mendadak raib dari permukaan, sementara serbuan dari perusahaan-perusahaan dotcom tidak terbendung. Pengaruh dan perubahan teknologi yang kuat ini pasti berpengaruh pada jalan karir, sehingga karir sudah tidak bisa lagi dilihat sebagai garis lurus yang menanjak. Tidak satupun orang yang bisa meramal arah evolusi masa depan. Demikian juga dengan karir. Tidak cukup keyakinan bahwa selama kita bersekolah dengan baik, otomatis akan sukses di tempat kerja. Kenyataannya, banyak sekali kesulitan yang dialami oleh para fresh graduate untuk mendapatkan pekerjaan yang diimpikan. Individu yang sudah berada di dalam perusahaan pun banyak yang tidak puas dengan karirnya padahal merasa sudah bekerja keras. Para ahli manajemen sekarang ini menggambarkan perjalanan karir dalam beberapa fase.

Fase Perjalanan Karir

Fase pertama adalah ketika para fresh graduate baru lulus di mana mereka perlu menonjolkan potensi mereka sendiri mengingat masih pendeknya pengalaman dan track record yang mereka miliki. Inilah saatnya, kita menunjukkan aspirasi kita, menampilkan kapasitas intelektual, energi, entusiasme, etika kerja dan kekuatan ketrampilan interpersonal kita. Fase pertama karir ini adalah kesempatan kita untuk belajar dan menambah ilmu. Pada saat-saat inilah kita berkenalan dengan kekuatan kita, mulai membuka mata terhadap ketrampilan-ketrampilan kerja yang tidak kita pelajari di bangku kuliah, sampai kepada melihat bagaimana implementasi ilmu yang dulu dipelajari dengan kondisi nyata dunia kerja. Selanjutnya ketika memasuki usia 30 tahun, kitapun sudah semakin matang memilih. Saat inilah kita tahu ketrampilan apa yang akan menguntungkan karir kita dan perlu diasah. Tantangan apa di masa depan yang akan kita hadapi dan langkah-langkah apa yang perlu dipersiapkan untuk menjawab tantangan tersebut. Untuk itu individu perlu mawas diri dan memilih support yang pas agar ia dapat menyusun strategi untuk memposisikan karirnya dengan tepat. Pada saat ini sudah perlu ada kesadaran tentang preferensi dan kekuatan diri, karena kita harus menyadari bahwa dunia karir penuh kompetisi. Koopetisi perlu dikuasai mengingat banyak orang yang lebih dari kita, namun tetap kerjasama perlu dikembangkan untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal.  

Keseimbangan Karir

Pada dasarnya, dalam berkarir ada keseimbangan antara kepuasan kerja, gaya hidup, dan uang. Kepuasan kerja didapat sebagai akibat dari kualitas pekerjaan, tim, dan kebanggaan kita terhadap produk atau perusahaan. Sementara gaya hidup bisa didapat dari pemanfaatan jam kerja, interior kantor, kebiasaan-kebiasaan di lingkungan kantor. Uang, tentunya sering dipakai sebagai ukuran keberhasilan. Orang sering menyebut ketiga hal ini sebagai the career triangle. Seninya adalah bagaimana kita menyeimbangkan ketiganya dengan harmonis dalam kehidupan berkarir kita. Hal ini pasti tidak gampang, kita bisa mengejar gaji tinggi, tetapi teman kerja tidak menyenangkan. Atau passion yang cocok, membuat kita puas, namun tidak disertai dengan kompensasi yang memadai, belum lagi susana tegang dan banyak menyita waktu. Kita tahu: there is always a price to pay. Untuk mendapatkan sesuatu yang kita sukai, kita perlu mengorbankan sesuatu. 

Kembangkan Ketrampilan Sosial

Bahkan di era teknologi yang kuat seperti sekarang, kita harus ingat bahwa ketrampilan sosial yang mumpuni memegang peranan penting dalam kelancaran karir. David Deming seorang asisten professor di Harvard Graduate School of Education melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa pekerjaan yang membutuhkan kemampuan teknis seperti matematika ternyata makin menunjukkan penurunan dalam komposisi pekerjaan di US Labor Force selama tiga dekade terakhir. Hubungan interpersonal, being nice, selalu diperlukan orang baik untuk mendapatkan pekerjaan baru, maupun agar selalu sukses di pekerjaan. Bukannya kemampuan teknis tidak lagi penting, akan tetapi ketrampilan sosial seperti negosiasi, koordinasi, sigap menolong dan persuasi belum bisa tergantikan oleh komputer sementara ketrampilan seperti ini sangat dibutuhkan dalam berkarir. Apalagi kalau kita berperan sebagai pemimpin. Bukan untuk mencari muka, berkolusi, juga bukan untuk berpolitik. Selain berguna untuk berkolaborasi, kita juga lebih mudah happy kalau kita memiliki hubungan interpersonal yang manis. “Because the thing about computers, technology, and machines is that they’re very good at the specific things they’re programmed to be good at, but they’re not flexible.” Sementara: “The future belongs to the most flexible, not the strongest or smartest.”

Dimuat dalam KOMPAS 29 Agustus 2015

 

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com