was successfully added to your cart.

JIWA MUDA

PADA saat saat disruptif begini, banyak cara yang digunakan orang untuk bertahan. Ada yang melakukan perampingan besar-besaran. Ada yang mengubah struktur organisasi. Demikian pula ada yang mengganti pimpinan. Berhasilkah upaya-upaya perubahan yang dilakukan ini? 

Banyak perusahaan yang juga merasakan maturitas organisasinya. Banyak karyawan yang merasa bahwa praktik-praktik maupun personil di dalam organisasi sudah mulai lapuk dan menua. Di salah satu perusahaan, di mana para mantan ODP angkatan pertamanya sudah menjelang usia pensiun sekarang, gejala inipun terlihat. Perintah atasan untuk meremajakan pemikiran di sambut oleh para pejabat manajemen menengah dengan cara berdandan seperti anak muda, layaknya memutar lagu-lagu yang sedang in. Dalam pemilihan vendor bahkan mereka tidak lagi mempedulikan konten, yang paling penting, terlihat baru dan bersemangat muda. Alhasil, perusahaan semakin kehilangan arah, karena kesalahan interpretasi mengenai peremajaan mindset dari para eksekutornya. 

Kita simak apa yang terjadi pada perusahaan taksi. Bukan di Indonesia saja. Mereka, hampir semuanya sudah melek teknologi. Mereka bukannya tidak mempunyai kapasitas membuat aplikasi yang lebih kekinian. Hal yang sering membunuh mereka, dan kemudian terpaksa kalah dengan para new comers yang bermodal kecil justru adalah mindset yang cenderung tidak berubah. “Kami armada terbaik dan tepercaya”. “Kami sudah lebih advance dalam teknologi” “kalau mau, kami bisa membayar 1.000 programmer untuk membuat aplikasi yang lebih canggih”. Namun, hal sebaliknyalah yang terjadi. Perusahaan-perusahaan kecil dan baru inilah yang mampu membuat gebrakan disruptif. Kalau pada dekade lalu, hanya Steve Jobs yang dianggap sukses mendobrak, maka sekarang perusahaan on line mampu merusak pasaran mal, dan toko-toko yang tidak cepat mengambil langkah perubahan akhirnya tak mampu bertahan. Pertanyaan kepada perusahaan-perusahaan raksasa yang tak kunjung berubah ini adalah: sudahkan kita memikirkan solusi yang terintegrasi untuk memenangkan pasar di zaman maraknya cloud computing, sensor wireless, big data dan smartphones?

John sculley seorang penulis tentang game-changing strategy mengatakan bahwa sekarang rasanya menjadi inovator saja tidak cukup. Kita sekarang perlu ber-mindset: adaptive innovator, tidak perduli apakah kita bekerja di korporasi yang sudah mapan, ataupun baru startup dengan perusahaan tidak bermodal besar. Sekarang menurutnya kita tidak bisa mencari inspirasi hanya dari what’s possible, tetapi juga berfokus pada what’s probable. Kita tidak bisa hanya bermimpi, sebab kita juga perlu terjun dalam pelaksanaan, mewujudkannya menjadi nyata. Kita perlu setiap pagi bangun layaknya bertenaga batu baterai yang baru dicas, selalu ingin mencari tahu tentang apa yang terjadi di sekitar kita, dan di dunia, juga tetap berkomitmen untuk menyelesaikan segala sesuatu sesuai deadline. Ide-ide yang ada perlu dikembangkan, digarap, diuji coba, didalami, serta dikembangkan secara induktif dan deduktif. Kita tidak pernah boleh berhenti berpikir dan mendelegasikan kegiatan berpikir kita.  

Banyak yang mengatakan bahwa para atlet yang sukses itu sudah berbakat dari sananya. Namun, mungkinkah mereka menjadi pemenang kalau tidak berlatih setiap hari. Tuntutan untuk tetap berjiwa muda hanya bisa dijaga melalui produktivitas pemikiran. 

Membuat lapisan pemikiran baru 

Pemikiran kita tumbuh seperti kulit bawang. Pemikiran lama, nilai-nilai, filosofi kehidupan, berada di pusat pemikiran kita. Di otak, pusat ini dikendalikan oleh sebuah struktur kecil yang bernama amigdala yang akan mengeluarkan hormon stres bila kita menghadapi bahaya. Namun, bahaya untuk kita tidak selamanya berbentuk fisik. Stimulus berupa pemikiran yang berbeda, atau bahkan bertentangan dengan kita, ataupun perasaan tersinggung, oleh otak akan dianggap mengancam ekuilibrium yang ada, sehingga ia menyemburkan hormon stres yang membuat kita berfikir negatif. 

Inilah sebabnya, kita lebih banyak mengamati gejala dari sisi negatif daripada yang positif. Kita perlu berlatih untuk menghadapi situasi-situasi stres ini secara lebih efektif. Kitalah yang perlu membuat lapisan-lapisan baru di pemikiran kita yang merupakan hasil dari pembelajaran terkini, sehingga keberbedaan dari luar ini tidak terasa menyerang, dan kemudian membuat kita bersikap defensif. 

“Raising the bar”

Kita, terutama para pemimpin, memang harus tetap dinamis dalam mempelajari hal-hal baru. Dalam setiap pengalaman dan interaksi, baik ketika mendengarkan kisah orang lain, maupun dalam melaksanakan tugas, perlu ada percikan gairah untuk belajar dan mendalami sesuatu. Dengan demikian, kita akan mendapatkan lapisan-lapisan pengetahuan baru. Dinamika inilah yang akan membiasakan dan semakin menguatkan daya pikir kita. 

Ada tiga dimensi pemikiran kita yang tumbuh sebagai akibat proses belajar yang terus-menerus. Pertama, terkait dengan bagaimana kita mengolah informasi. Kedua, terkait dengan bagaimana kita bereaksi menghadapi tantangan dan yang terakhir berhubungan dengan bagaimana kita menghadapi orang lain. Ketiga aspek ini merupakan hal-hal yang sangat penting untuk dikuasai dalam menghadapi dinamika bisnis. 

Hanya dengan cara-cara berpikir inilah kita mampu menghadapi tuntutan pelanggan yang kian meningkat dan kompleks serta terampil menawarkan solusi-solusi yang desruptif. Dibutuhkan disiplin untuk membiasakan cara berpikir yang terbuka terhadap hal-hal baru. Ketika menggunakannya secara teratur kita juga bisa menginsipirasi dan mendorong tim kita untuk meningkatkan kualitas kerjanya. Seorang pemimpin yang mau terus menerus belajar, dapat mendorong dirinya dan orang lain untuk mencapai hasil yang semakin baik dari hari ke hari. Di sinilah kualitas keremajaan akan terasa.  

Dimuat dalam KOMPAS, 18 Juni 2016

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com