was successfully added to your cart.

KOMPETENSI PEMIMPIN

KOMPETENSI PEMIMPIN

DUNIA dikejutkan oleh terpilihnya pemimpin negara adidaya yang begitu dikenal, tetapi diragukan banyak orang. Banyak yang terusik rasa amannya, banyak juga yang meragukan kinerjanya. 

Yang jelas, pemimpin ini perlu lekas-lekas membuktikan kapasitasnya, kalau ingin betul-betul mendapatkan dukungan rakyat. Mudahkah itu, terutama untuk orang yang berpengalaman memimpin bisnis saja dan tidak pernah mengelola pemerintahan? 

Kita juga bisa menemui tipe pemimpin yang tampil simpatik, menarik, santun, dengan idealisme yang dikagumi. Sosok seperti ini tentu membuat kita berasumsi bahwa ia pastilah seorang pemimpin yang baik. Namun, fakta menunjukkan bahwa pemimpin semacam ini tidak selalu mampu mengelola organisasinya secara efektif guna menghasilkan perubahan. 

Karisma seorang tokoh belum tentu menjamin kinerja yang baik. Apalagi pada zaman yang serba transparan saat ini, sangat mudah melihat dan menilai efektivitas seorang pemimpin dari hasil kerja nyatanya.

Jim Collins, penulis buku terkenal Good to Great, mengatakan, pemimpin yang efektif biasanya adalah orang yang rendah hati, tidak menonjol, tidak flamboyan, tetapi bekerja. Bukankah ini juga cocok dengan apa yang dicanangkan presiden kita, yaitu "kerja, kerja, kerja?”. Tentunya dengan hasil yang nyata.

Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh Michael Sanger dari Hogan Assessments, memang ternyata, pemimpin di Asia yang berhasil tampaknya lebih banyak terdiri atas pemimpin yang tidak kharismatik, tetapi justru lebih kuat dalam implementasi.  

Namun, di lain pihak, hasil kerja saja tidak cukup, terutama bila sudah ada perebutan kekuasaan, politik, yang membutuhkan keterampilan orasi dan diplomasi. Di sinilah karisma pemimpin juga diperlukan. Bahkan, ketika kinerja tidak terlalu kelihatan, karisma bisa membuat orang merasionalisasi hal-hal yang belum dikerjakan, ataupun kekurangan-kekurangan pemimpin tersebut. 

Peran pemimpin baik dalam organisasi maupun negara, sudahlah sangat nyata. Pemimpin adalah sumber daya terbesar bagi kelompoknya.  Namun, mengapa tumbuhnya pemimpin ini tidak subur? Apakah karena kita memang salah dalam menentukan kriteria kesuksesan seorang pemimpin? Apakah karena kita tidak tepat dalam mendefinisikannya? Adakah karena kita lupa mengenali sebab-sebab kegagalan seorang pemimpin? Atau mungkin kita mengabaikan persepsi anak buah terhadap kapasitas seorang pemimpin? 

Melihat kenyataan-kenyataan yang ada konsep kepemimpinan yang pas, sampai sekarang belumlah terformulasikan bentuknya.

Tiga Kompetensi Kepemimpinan

Dr Robert Hogan, dalam 2 tahun terakhir ini berusaha membuat gambaran yang lebih jelas mengenai kepemimpinan. Studi yang masih berlangsung ini mengemukakan tiga kompetensi yang berbeda, yang tidak dimiliki seorang pemimpin secara merata. Penelitian ini membantu organisasi untuk mengidentifikasi potensi kepemimpinan dengan lebih jelas. 

Dalam kompetensi pertama, Hogan menemukan persyaratan utama dan mendasar, yang sering kita sebut sebut sebagai star quality. Ini adalah dasar kepemimpinan, yang tidak bisa ditinggalkan oleh seorang yang berniat menjadi pemimpin.

Kualitas ini dapat dilihat dari kemampuan dan akuntabilitas pemimpin terhadap kelompoknya. Apakah ia dengan mudah mendapatkan followers ataukah ia tetap teralienasi di pucuk pimpinan, dan hanya dituruti karena sistem yang ada? 

Mungkin individu seperti Hilarry pun perlu dipertanyakan kemampuan basic-nya ini. Bagaimana pemimpin dengan kualitas seperti ini bisa mengajak rakyatnya bersusah-susah bersama? Kita bisa merasakan hubungan yang hambar antara pengikut dan pribadinya. Jadi, pertanyaan nomor satu bagi pemimpin adalah apakah dia dicintai dan diikuti rakyatnya? Apakah cukup banyak orang yang engaged dengannya? 

Kompetensi kedua yang juga penting adalah kemampuan menebar pesona, yang disebut oleh Hogan sebagai emergence. Bung Karno adalah contoh konkret dari tokoh yang mempunyai emergence tinggi. 

Setiap kata-katanya menggaung, orang akan berhenti melangkah dan mendengarkan apa yang ia katakan. Kemampuan orasinya dikenal di dunia. Penampilannya, yang dia upayakan juga agar selalu gagah, dengan ganjal bahu khusus, membuat beliau semakin keren di mata dunia. Ini adalah sosok “opinion leader” yang menonjol. Ia bisa menjual konsep. Ia pun bisa menuntun arah perjuangan kelompoknya. 

Kompetensi ketiga adalah effectiveness, yaitu implementasi menjadi kunci kekuatan pemimpin. Bagaimana pemimpin make it happen. Bagaimana merubah gagasan menjadi karya nyata. Bagaimana mentransformasi kali kotor menjadi bersih. Bagaimana membuat lahan parkir menjadi tertib, dan menghasilkan banyak uang. Bagaimana mencetuskan ide, membidani sebuah gerakan, dan mengelola organisasi untuk berkontribusi. Ini adalah model pemimpin yang memiliki kekuatan “kerja”, tidak lain. 

Pada masa sekarang, pemimpin blusukan adalah istilah yang populer digunakan. Hanya berfokus pada “karya”, tidak menonjol, dan tidak merasa berkepentingan untuk menampilkan diri. Karakteristik seperti inilah yang disebut sebut oleh Jim Collins dan Michael Sanger sebagai salah satu kekuatan para pemimpin di Asia. 

Setiap pemimpin idealnya mempunyai ketiga kompetensi tersebut secara seimbang. Namun, paling tidak, dengan deskripsi kompetensi kepemimpinan ini, kita bisa menemukenali apa yang masih menjadi pe-er masing-masing. Effectiveness yang kuat tanpa kemampuan emergence, atau sebaliknya, plus dasar-dasar kepemimpinan, bisa-bisa membuat seseorang sekadar berperan sebagai seorang manajer, tidak lebih.

Dimuat dalam KOMPAS, 12 November 2016

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com