was successfully added to your cart.

Seorang salesman bercerita soal dilema yang dihadapinya terkait penjualan versus etika bekerja. Seorang pelanggan penting yang selama ini mendatangkan omzet signifikan, butuh produk kompetitor. Sayangnya perusahaan tempatnya bekerja tidak punya hubungan baik dengan kompetitor tersebut. Ia merasa kesempatannya hanyalah menjual barang itu secara pribadi ke pelanggan tersebut, karena bila ia tidak melayani pelanggan, kompetitor bisa ‘masuk’. Namun, jika ia berterus terang pada perusahaan, ada risiko perusahaan tidak mengijinkan. Sementara, bila ia ketahuan menjual barang tersebut secara pribadi,  ia bisa dianggap melakukan “moonlighting” alias ‘ngobyek’.


 


Kasus-kasus seperti inilah yang saya amati kerap jadi pembahasan panjang, dalam beberapa program sosialisasi values maupun budaya perusahaan akhir-akhir ini. Banyak sekali concern terhadap kesuksesan bisnis yang buntut-buntutnya mendiskusikan dilema atau pertentangan dengan etika kerja, pelanggaran sistem dan prosedur, juga ‘kreativitas’ dalam melihat celah. Di banyak perusahaan di mana ‘trust’, ‘code of conduct, “do’s dan dont’s “ yang menunjang integritas setiap individu sudah digariskan, tetap saja timbul pertanyaan-pertanyaan yang terkadang tidak mudah dijawab. Bolehkah mengundang klien dalam pesta pernikahan kita? Bolehkan menerima hadiah ulang tahun yang sangat pribadi tetapi cukup berharga, dari klien yang sudah menjadi kawan baik? Rasa-rasanya setumpuk peraturan pun tidak akan bisa mencakup semua perilaku.


 


Halal tidak Halal


Ketika 10 tahun yang lalu, di Eropa, saya menyaksikan sebuah iklan hamburger  yang menulis dengan gamblang: “Daging kami 50 mm lebih tebal daripada.produk ’X’ (produk kompetitor)”, saya merasa  bahwa  rambu-rambu etik profesi, etika bisnis sudah bergeser. Sebuah perusahaan iklan kini tidak lagi hanya melayani satu klien per jenis produk, karena produk di pasaran sudah terlalu banyak. Kita juga tidak bisa marah bila pelanggan “ikut” dengan “account officer” yang disukainya bila si AO pindah ke perusahaan lain.  


 


Terkadang kita bertanya-tanya, demi kesuksesan karir dan bisnis,  ‘halal’kah kita melanggar nasihat-nasihat yang kita dapat dari guru-guru dan orang tua kita saat masih kecil, bahwa ‘kita harus adil’, ‘kita perlu memikirkan perasaan orang lain’, ‘kita harus merespek orang lain’, ‘kita harus tulus’, ‘kita harus tahu cara berterimakasih’, ‘kita “harus melindungi yang lemah’?


 


Agresivitas merebut pasar, entrepreneurship, arogansi sebagai pemenang, pemanfaatan wewenang yang sulit dibuktikan kesalahannya, proteksi terhadap “intelectual property”, sering menyebabkan tindakan yang “kasar” dan  pelanggaran terhadap nasehat-nasehat orangtua tersebut “dihalalkan”. Kadang kita berupaya mencari pembenaran, “Kalau kita nggak duluan nginjak, kita yang akan diinjak...”. Pembenaran seperti  ini keluar spontan tanpa rasa bersalah untuk melakukan “survival” bisnis ataupun karir.   Kadang, sebagai orang yang sudah makan asam garam kehidupan kitapun “speechless” menghadapi tindakan-tindakan ini. Semuanya benar, tinggal kita kembalikan lagi pada diri kita dan berpikir, “Apakah ini etis? Apakah kita mau meneruskan kehidupan dengan meremehkan “harga“ orang lain dan “harga” diri kita?


 


Rogoh  Hati Nurani


Bila saja keberanian, kegagahan, dedikasi, motivasi di-support oleh pemahaman dan pengolahan tata krama kehidupan, maka  etika dan tata cara berperilaku dalam pergaulan dan bisnis pun tetap bisa kita kembangkan. Kita tahu bahwa para artis sedang melakukan gerakan anti “pembajakan”. Setelah tahu, apakah kita kemudian berhenti membeli bajakan CD dan video? Kita tahu banyak perusahaan sudah menerapkan prinsip-prinsip Health, Safety & Environment. Lalu, apakah kita kemudian jadi menyetir  dengan aman dan sopan di jalan raya? 


 


Orang tua saya tidak pernah tahu mengenai gerakan mengamankan lingkungan atau mengamankan enerji. Ini semua baru ada di era digital sekarang. Etik yang ditularkan oleh orang tua saya dulu jauh lebih sederhana daripada kebutuhan pertimbangan jaman sekarang. Di jaman sekarang , kita memang  perlu sangat peka terhadap hal hal yang dulu tidak pernah menjadi pertimbangan. Kita sekarang menghadapi  adanya “netiquette”,”cara gaul” dan sopan santun bisnis yang juga berkembang. Yang jelas, perkembangannya nilai nilai itupun tidak mungkin dimaksudkan untuk “menghajar” nilai nilai kemanusiaan.  Tentu saja kita perlu sekali mengikuti jaman, sekaligus memancing keluar daya penilaian kita terhadap baik buruknya perilaku kita di jaman yang semakin “sophisticated” ini. Etik kita juga perlu dipoles jadi lebih memuaskan dengan tuntutan jaman. Ini akan dimudahkan karena hati nurani kita tidak pernah hilang, asal  rajin dipelihara dan diasah.


 


Elaborasi Kode Etik


Sebenarnya, pencanangan ‘good corporate governance’ tidak jauh-jauh dari niat  perusahaan untuk  menjunjung tinggi “fairness”, transparansi, akuntabilitas dan tanggung jawab. Aturan berperilaku atau kode etik sekarang bukannya luntur tetapi semakin terelaborasi dan semakin canggih. Karenanya, dalam pengembangan kode etik, kita perlu untuk setidaknya memikirkan ‘5C’ ini secara lebih mendalam:



  • Complexity: Semakin kompleks permasalahan beserta berbagai resiko yang menyertainya, semakin individu perlu berpikir keras dan mempertimbangkan banyak hal sebelum bertindak.

  • Creativity: Dalam transaksi bisnis, kreativitas baik untuk mencari solusi, tetapi tidak untuk merekayasa peraturan atau system.

  • Control: Monitor internal perlu kita ‘nyalakan’ terus

  • Coziness: Pancing kepekaan untuk mensensor rasa “nyaman” kita, bila melakukan sesuatu yang pelik.

  • Choices: Sadari bahwa setiap hari, setiap saat, kita dihadapkan pada pilihan sikap, dan mempunyai kesempatan untuk memilih yang baik. 

 


Bagaimana pun juga, kita perlu mencari cara agar setiap pulang ke keluarga, ke rumah, ke perusahaan dan ke bangsa sendiri,  kita pulang dengan rasa bangga dan terhormat.


 


Ditayangkan di KOMPAS, 5 Mei 2007

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi marketing@experd.com